Munadi
Tri atau Three atau 3 merupakan salah satu perusahaan telekomunikasi seluler yang ada di Indonesia. Bagi pengguna perangkat BlackBerry yang memakai kartu Tri tersedia layanan BlackBerry Socialite yaitu layanan BlackBerry Full Service selama 3 bulan. Sebelumnya, layanan ini mempunyai masa aktif selama 6 bulan.

Saat ini, saya sedang memakai handset BlackBerry dengan menggunakan kartu Tri. Pada waktu itu, saya memakai kartu Tri dengan layanan BlackBerry Socialite 6 bulan, namun saya lupa tanggal berapa layanan kartu Tri tersebut mulai diaktifkan. Pasalnya, kartu tersebut didaftarkan bukan di perangkat BB saya, melainkan di smartphone BB saudara saya. Saya hanya meneruskan sisa masa aktifnya yang masih cukup panjang karena saudara saya tersebut tidak mau menggunakannya lagi sehingga sayang jika kartu 3 itu didiamkan begitu saja.

Sebenarnya, cara untuk mengecek atau mengetahui masa aktif BlackBerry kartu Tri ini cukup mudah dan sederhana. Kita hanya perlu memasukkan kode tertentu pada layar depan handphone BlackBerry. Bagaimana caranya? Caranya adalah ketikkan atau masukkan kode *123# lalu tekan tombol Call atau Panggil. Setelah itu, masukkan angka 7 untuk pilihan Blackberry, lalu tekan tombol Panggil atau trackpad. Kemudian, masukkan angka 4 untuk pilihan Cek Masa Aktif Blackberry dan tekan tombol Panggil atau trackpad lagi.

Sesudah langkah-langkah di atas dilakukan, maka kita akan dikirimi SMS dari 234 yang isinya memberitahukan kapan layanan masa aktif BB kita akan berakhir. Oh ya, kalau tidak mau repot-repot melakukan cara di atas, ada cara ringkas yang bisa dilakukan, yaitu langsung saja ketik di layar depan hp kode *123*7*4# dan diikuti dengan menekan tombol Panggil, maka beberapa saat kemudian SMS dari 234 tersebut akan masuk di BlackBerry kita.

Berikut ini adalah video tentang cara mengecek masa aktif BlackBerry untuk kartu Tri atau Three.



Demikian informasi mengenai cara cek masa aktif BlackBerry Tri. Terima kasih sudah mengunjungi artikel ini dan semoga bermanfaat.
Munadi
Setiap awal bulan, seperti biasanya saya mengantarkan ayah saya ke kantor BTPN di kawasan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, untuk mencairkan dana pensiun. Sudah beberapa tahun belakangan ini, ayah selalu diantar untuk menghindari terulangnya kejadian beliau salah naik angkutan umum ketika pergi sendirian. Pernah waktu itu, beliau pulang sudah malam sewaktu berangkat seorang diri karena salah memilih jurusan bis kota.

Pagi tadi, kami berangkat berdua memang agak siang dibanding pada bulan sebelumnya, yakni pukul 05.00 lewat atau mendekati jam setengah enam pagi. Pasalnya, saya harus mencari-cari E-Karip terlebih dahulu yang entah disimpan di mana. Kartu tersebut dibawa ke kantor bank tersebut untuk berjaga-jaga saja, jika nanti diperlukan, maka sudah tersedia di dompet.

Meskipun waktu berangkat untuk menuju ke kantor tersebut terbilang agak kesiangan, namun jalanan masih terlihat gelap dan lampu jalan juga masih menyala karena memang matahari belum menampakkan dirinya. Sepertinya biasanya, kami melalui jalan-jalan yang biasa dilewati pada bulan-bulan sebelumnya. Menjelang kawasan Harmoni, nampak para pekerja sedang melakukan perbaikan Jalan Majapahit. Sepertinya, pekerjaan tersebut dilakukan sejak dini hari dan belum selesai hingga kami melintas.

Akhirnya, kami tiba dengan selamat di gedung bank tersebut menjelang pukul 6 pagi. Lamanya perjalanan dari rumah di kawasan Kembangan Selatan untuk bisa sampai di sana, kira-kira memakan waktu selama 35 menit. Tiba tempat parkir sepeda motor, sudah terlihat beberapa pengendara memarkirkan kendaraan roda duanya di sana. Kemudian, saya memilih parkir di tempat yang terdapat kanopi sebab masih tersedia ruang kosong. Memarkirkan kuda besi di sini, jika hujan, maka motor tidak kebasahan.

Sementara saya berada di tempat parkir, ayah terlebih dahulu masuk ke Gedung C bank tersebut untuk mengambil nomor antrian. Ternyata, nomor antrian yang diperoleh menjelang jam 6 pagi tersebut adalah 373. Padahal, loket baru dibuka menjelang jam 7 pagi, tetapi nomor antrian sudah menggelembung seperti itu. Dalam hati saya bertanya, mungkinkah ada seseorang atau banyak orang yang mengambil nomor antrian lebih dari satu? Kalau melihat orang-orang yang duduk di kursi, rasanya tidak mencapai 300an orang.

Pada bulan-bulan sebelumnya, memang tidak pernah mendapatkan nomor antrian di atas 300, hanya sekisaran 200an saja. Dengan nomor antrian sebesar 373, rasanya kami akan menunggu lama di gedung tersebut. Meskipun ada 3 loket yang dibuka, tetapi sepertinya untuk melayani satu orang nasabah membutuhkan waktu yang cukup lama.

Benar saja, sekira pukul 9, jumlah antrian yang sudah dipanggil belum ada setengah dari nomor antrian yang ayah miliki. Karena lamanya menunggu antrian, saya lalu untuk ke luar dari area bank tersebut menuju ke pinggiran Jalan Gunung Sahari untuk berjalan-jalan, mungkin saya menemukan penjual koran, ternyata tidak.

Sembari melihat-lihat lalu-lintas di Jalan Gunung Sahari di kawasan tersebut, mata saya tertuju ke beberapa spanduk yang terpasang pada pagar yang ada di tengah-tengah jalan tersebut. Ada 3 spanduk yang saya perhatikan. Ternyata, spanduk-spanduk tersebut berisi tulisan tentang kekecewaan terhadap Menpora. Hal ini berkaitan dengan kisruh organisasi sepak bola Indonesia. Lalu, saya sempat memvideokan spanduk-spanduk tersebut.

Karena menunggu nomor antrian yang masih lama dipanggil, perut sudah memanggil-manggil minta diisi. Awalnya, ayah menginginkan untuk memakan nasi uduk, tetapi kami tidak menemukan pedagangnya. Akhirnya, kami memutuskan untuk memakan ketoprak saja yang penjualnya berada di luar tempat parkir motor.

Baru kali ini, kami mengalami menunggu antrian paling lama. Sudah jam 10, belum juga dipanggil. Pukul sebelas sudah lewat pun, panggilan belum datang juga. Akhirnya, jam 12 lebih sedikit, tulisan nomor antrian 373 terpampang di papan pada loket nomor 9. Ayah lalu mendatangi teller di loket tersebut untuk mengambil dana pensiun. Setelah dana diterima, sang teller juga memberikan sebungkus roti.

Hari ini merupakan hari yang cukup melelahkan hanya untuk urusan yang namanya menunggu. Betapa tidak, membutuhkan waktu sekira 6 jam untuk bisa menuju ke meja teller. Bagaimana dengan yang memiliki nomor antrian 600 atau 700, mungkin bisa sampai sore hari. Menunggu memang kegiatan yang tidak mengenakkan.